Home / cerita 18+ / Penantian Dokter Sex
1

Penantian Dokter Sex

Penantian Dokter Sex

26123

Crot3m – Aku Jeani, saat ini berusia 30 tahun. Setelah aku lulus dari kuliah, aku langsung mendapatkan pekerjaan sebagai dokter disebuah rumah sakit terkenal. Karena memang aku mengambil jurusan kedokteran.

Sampai sekarang aku sudah bekerja dirumah sakit itu kurang lebih 3 tahun. Saat aku menjadi dokter aku dikenalkan oleh temanku seorang laki-laki yang bekerja di suatu perusahaan, akhirnya kita saling berkenalan dan akrab kemudian kami menjadi pasangan suami istri.

Tapi setelah setahun perkawinanku aku menemukan hal yang aneh pada suamiku. Di dalam pernikahan, suamiku jarang sekali menyentuhku, dan jika aku mengajaknya untuk berhubungan Sex dengan segala alasan dia menolak, dan ketika alasannya habis dia baru mau aku ajak berhubungan Sex dan itu pun hanya menyenangkanku saja padahal dalam hati aku merasa tidak terpuaskan.

Suatu waktu aku ditugaskan oleh rumah sakit ke desa sebelah untuk membantu warga disana yang sedang dilanda wabah penyakit. Setelah aku meminta ijin pada suamiku, suamiku pun mengijinkannya dengan janji 2 minggu sekali aku pulang dan aku menyanggupinya.

Dari sini lah aku mengetahui sifat buruk suamiku yang sebenarnya. Setelah 2 minggu aku berada didesa sebelah, aku memutuskan untuk pulang, sesampainya aku dirumah aku kaget dengan yang aku lihat.

Suamiku sedang bergumul dengan seorang laki-laki dengan sangat bergairah. Dia tidak pernah se bergairah itu ketika berhubungan Sex denganku. ternyata suamiku adalah seorng homo, tapi aku hanya memendam yang aku lihat waktu itu.

Setelah kejadian yang aku lihat siang itu, aku menjadi jarang pulang dan suamiku pun juga tak pernah menanyakan kenapa aku jarang pulang. Karena desa tempat aku bertugas adalah daerah laut, aku menghilangkan penat diotakku dengan berlayar, hingga menjadi kebiasaanku setiap kali tak pulang rumah.

Dari desa itu aku mempunyai banyak kenalan, muda-mudi, yang lebih tua banyak sekali yang aku kenal dan ketika aku pulang dari berlayar aku bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu menarik hasratku. Tubuhnya tinggi kekar, kulitnya kecoklatan, dagu dan sekujur tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus, dimataku terlihat sosok laki-laki yang perkasa.

Tapi setelah hari itu aku jarang lagi melihat sosok laki-laki tersebut, kemudian aku menanyakan tentang laki-laki tersebut kepada bapak yang menahkodai perahuku saat berlayar, aku ajak dia mengobrol sambil mencari tau tentang laki-laki tersebut.

Setelah aku bertanya panjang lebar akhirnya pak nahkoda memberitahuku namanya pak Jarwo, umurnya sekitar 40 tahunan. Tapi hal itu tak begitu mempengaruhiku. Setelah selesai berlayar aku kembali kedesa dan aku langsung menuju tempat praktekku.

Banyak warga yang datang dan pergi, aku pun memeriksanya dengan sebaik mungkin karena itu tugasku. Setelah malam tiba, aku hampir menutup tempat praktekku, datanglah sosok laki-laki megetuk pintu yang ingin di periksa. Karena aku berpikir ini pasien yang terakhir, aku pun mempersilahkannya untuk masuk.

“Dok, saya tidak mempunyai keluhan. Hanya saya ingin tahu apakah tekanan darah saya normal ”. Demikian Pak Jarwo mengawali pembicaraan.

“Saya bisa tidur nyenyak setelah makan obat dokter ”.

Sambil memeriksa, kami berdua terlibat pembicaraan ringan, mulai dari sekolah sampai hobi. Dari situ aku baru tahu, Pak Jarwo telah dua tahun menduda ditinggal mati istri dan anak tunggalnya yang kecelakaan di Solo. Sejak saat itu hidupnya membujang.

Ketika pamit dari ruang praktekku, Pak Jarwo menawarkan suasana santai sambil menyelam di kepulauan karang.

“Dok, panoramanya sangat indah, pantainya juga bersih lho”.

Aku setuju atas tawaran itu dan Pak Jarwo akan menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.

Hingga tiba waktunya kami berangkat. Dalam speed boath yang melaju, hanya berisi aku, Pak Jarwo dan pengemudi kapal.

Sesampainya disana, aku merasa canggung ketika harus berganti pakaian selam di hadapan laki-laki. Tapi aku juga belum tahu cara mengenakan pakaian selam jika tanpa bantuan Pak Jarwo. Terpaksa dengan pakaian bikini aku dibantu Pak Jarwo memakai pakaian renang.

Tangan kekar berbulu itu beberapa kali menyentuh pundak dan leherku. Ada perasaan merinding. Cukup membuat Gejolak dalam darahku mengalir begitu deras. Penyeaman pertama berlalu begitu saja, aku tak bisa sepenuhnya menikmati keindahan laut. Hingga tanpa terasa kegiatan menyelam menjadi kegiatan rutin. Bahkan pergi ke tempat penyelaman sering hanya dilakukan kami berdua, aku dan pak Jarwo.

Semakin hari jarak hubungan aku dengan Pak Jarwo menjadi lebih akrab dan dekat. Kami sudah saling terbuka membicarkan keluarga masing-masing sampai dengan keluahanku mengenai suamiku yang gay. Dia tidak lagi memanggilku Bu Dokter, tapi cukup namaku, dik Jeani.

Musim penghujan hampir tiba, kami berdua di tengah perjalanan ke tempat penyelaman. Tiba-tiba datang hujan dan angin sehingga gelombang laut naik-turun cukup besar. Aku mual, sehingga kapal dibelokkan Pak Jarwo ke arah sisi pulau yang terlindung.

1

Kami turun ke pantai, duduk di bangunan kayu beratap rumbia tempat para penyelam biasa istirahat sambil menikmati bekal. Hanya ada dua bangku panjang dan meja kayu di tempat itu. Angin kencang menyebabkan tubuh kami basah dan dingin. Aku duduk mepet ke Pak Jarwo. Aku tidak menolak ketika Pak Jarwo memelukku dari belakang. Tangan berbulu lebat itu melingkar dalam dada dan perutku.

Dekapan itu terasa hangat dan erat. Aku memejamkan mata sambil merebahkan kepalaku di pundaknya, sehingga rasa mabuk laut mulai reda. Sebuah kecupan ringan melekat di keningku, kemudian bergeser ke bibir, aku berusaha menolak, tapi tangan yang melingkar di dadaku berubah posisi sehingga dengan mudah menyusup dalam BHku.

Tiba- tiba badanku terasa lemas saat jari tangan itu membuat putaran halus di puting susuku. Bibir berkumis lebat itu menjelajah ke bagian sensitif di leher dan belakang telingaku. Persasaan nikmat dan merinding menjalar dalam tubuh dan aliran darahku.

Bibir itu kembali bergeser lambat menyusur dagu, bergerak ke leher, pundak dan akhirnya berhenti di Payudaraku. Aku tidak tahu kapan kaitan BH itu terbuka. Dorongan kuat muncul di daerah terlarangku, ingin rasanya ada benda bisa mengganjal masuk.

Tangan kekar itu akhirnya membopongku dan meletakkan di atas meja kayu. BH ku telah jatuh di atas pasir, gairahsex.com mulut dan tanggan Pak Jarwo bergantian menghisap dan meremas kedua gunungku, kanan kiri. Aku bagaikan terbang melayang, kedua tanganku menjambak rambut Pak Jarwo. Kepalaku tanpa terkendali bergerak ke kanan dan kiri semakin liar disertai suara eluhan nikmat.

“Oooohhhhh ……oohhhh… ooooohhhh aauuhhhhhh.” Kedua tangannya semakin kencang meremas Payudaraku. Mulutnya bergeser perlahan ke bawah menelusur pusar …….. menuju….Vaginaku.

“Ahhh…… husss……. ahh…… aahhhhhh.”

Ketika mulut itu menemukan klitorisku, jeritanku pun tak tertahan

“Auh..h …h… aahhh….. husss…..” sebuah benda lunak menyeruak bibir Vaginaku. Bergerak perlahan dalam usapan halus serta putaran di dinding dalam, membuatku semakin melayang.

Tanpa terasa eranganku semakin keras. Untuk menambah kenikmatan, aku angkat tinggi pantatku ke atas. Ingin rasanya benda itu masuk lebih dalam. Tapi aku hanya mendapatkannya dipermukaan.

“Ooohhhh ……..haahh…… haaahh…huuu……. terus…..se..se..se..dikit…atas..Ooohhh.aahhh ..” Sebuah hisapan kecil di klitorisku memperkuat cengkeraman tanganku di pinggir meja.

Hisapan itu semakin lama semakin kuat …. kuat dan kuat….. menjadikan kenikmatan tak terhingga …. memuncul denyutan orgasme. Otot-otot disekitar Vaginaku mengejang nikmat dan nikmat sekali. Sesekali nafasku tersengal

“Aaa……..hhhhh…..a ahhhhh….aahhhh……… aaaahhhhhhhh……. ahhhh…… huhhhhhhh…ehhhhhh”.

Denyut itu menjalar dintara pangkal paha dan pantat ke seluruh tubuh. Orgasme yang sempurna telah aku dapatkan. Puncak kenikmatan telah aku rasakan. Lemas sekujur tubuhku, aku ingin dipeluk erat, aku ingin ada sebuah benda yang masih tertinggal dalam Vaginaku untuk mengganjal sisa denyutan yang masih terasa. Tapi aku hanya menemukan kekosongan.

Tangan-tangan berbulu itu dengan pelan membuka kembali pahaku. Kedua kakiku diangkat diantara bahunya. Kemudian terasa sebuah benda digesek-gesek di Vaginaku. Semula terasa geli, tapi kemudian aku sadar Pak Jarwo sedang membasahi penisnya dengan cairan kenikmatanku.

Seketika aku bangun sambil menutup kedua kakiku. Aku mendorong badannya, dan aku menangis. Sambil membuang muka aku sesenggukan. Kedua tanganku menutup dada dan selangkangan. Pak Jarwo tertunduk duduk dibangku menjauhi aku. Ia sadar aku tidak mau dijamah lebih dari itu. Sambil menelungkupkan badan di meja, tangisku tetahan.

Pak Jarwo mendekati dan dengan lembut ia membisikkan kata permintaan maaf. Diapun menyorongkan BH serta celana dalamku. Aku tetap menangis sambil menutup muka dengan kedua tanganku. Akhirnya pak Jarwo pergi menjauh menuju kapal mengambil bekal. Kami duduk berjauhan tanpa kata- kata.

Sekali lagi Pak Jarwo mengajukan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kejadian itu. Ia menyerahkan botol air mineral kepadaku.

“Maafkan aku dik Jeani, aku khilaf, aku telah lama tidak merasakan seperti ini sehingga aku khilaf. Aku minta maaf yah, aku harap kejadian ini tidak mengganggu persahabatan kita. Yuk kita minum dan makan siang, lalu pulang ”.

Aku merasa iba pada Pak Jarwo. Ternyata dengan tulus dia masih bisa menahan syahwatnya. Padahal bisa saja memaksa dan memperkosaku. Kesadaranku mulai pulih, emosiku mereda.

Aku mulai berpikir pada kejadian tadi, bukankah aku telah terlanjur basah saat ini ? Bukankah bagian dari kehormatanku telah dijamah Pak Jarwo ? Bukankah tubuhku yang paling sensitif telah dinikmati Pak Jarwo ?

Apa artinya mempertahankan kesucian perkawinan ? Bukankah aku tidak pernah menikmati rasa seperti ini dengan suamiku ? Bukankah aku telah kawin dengan seorang homo ? Yah aku telah diusir dari rumahku oleh teman gay suamiku.

Tapi itu bukan salah suamiku. Ia terlahir dengan kelainan jiwa. Ia menjadi gay dengan menanggung penderitaan. Ia terpaksa memperistri aku hanya untuk menutupi gaynya. Aku ingin merasakan kenikmatan, tapi aku tidak ingin jadi korban, aku tidak ingin punya anak dari hubungan ini dengan Pak Jarwo. Keberanianku mulai muncul. Aku melompat dan memeluk Pak Jarwo. Kelihatan Pak Jarwo ragu pada sikapku sehingga tangannya tidak bereaksi memelukku.

Aku bisikan kata mesra.

“Pak, aku kepingin lagi, seperti tadi, tapi aku minta kali ini jangan dikeluarkan di dalam ”.

“Maksud dik Jeani….. ” Sebelum dia menyelesaikan kata- katanya, tanganku meraba ke penisnya. Kemudian tanganku menyusup dalam celana renangnya. Sebuah benda yang tidur melingkar, tiba-tiba bangun karena sentuhanku

“Tapi jangan dikeluarkan di dalam ya Pak ….”.

“Terima kasih dik….”.

Senyum Pak Jarwo berkembang. Kembali aku didekap, aku dipeluk erat oleh kedua tangan kekar. Aku benamkan mukaku di dada bidang berbulu. Tanpa komando aku duduk di atas meja sambil tetap memeluk Pak Jarwo.

Aku diam, mataku terpejam ketika pelan-pelan aku direbahkan di atas meja. Satu persatu pengikat BH ku lepas sehingga tampaklah susuku yang masih sangat padat lengkap dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan sudah berdiri dengan pongahnya.

Kedua tangannya meraih dadaku, mulut hangat menyelusur gunungku, perlahan-lahan bergeser ke bawah, semakin ke bawah gerakkannya semakin liar. Gesekan kumis sepanjang perut membuatku menegang.

Aku pasrah ketika celana dalamku ditarik ke bawah lepas dari kaki sehingga kini aku sudah benar- benar bagaikan bayi yang baru lahir tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.

Mulut hangat itu kembali bermain lincah diantara bibir bawahku yang ditutupi rambut- rambut kemaluan yang berwarna hitam legam dan tumbuh dengan lebatnya disekeliling lubang kemaluanku dan clitoris terasa sudah mengeras pertanda aku sudah dilanda hasrat sex yang amat menggelegak.

Kenikmatan kembali menjalar di rahimku.

“Auh ….e.e.e.e.e.e.e…..haaah…haa ah haah. Auhhhhsss……” aku mengerang. Pak Jarwo sambil berdiri di tepi meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku.

“Aa…hhhh…..uhhh..” jeritan kecil tertahan mengawali dorongan penis Pak Jarwo menyusup Vaginaku. Pantatku diangkat tinggi dengan kedua tangannya ketika benda itu semakin dalam terbenam.

Tanpa hambatan penis Pak Jarwo masuk lebih dalam menjelajah Vaginaku. Dimulai dengan gerakan pendek maju mudur berirama semakin lama menjadi panjang. Nafasku tersengal menahan setiap gerak kenikmatan.

“Aaah….ahh…..ahh…….haaaa…haassss…….” Entah berapa lama aku menerima irama gerakan maju mundur benda keras dalam Vaginaku. Aku telah merasakan denyut orgasme.

“Auuuuuuuuhhhhh”

Jeritan dan cengkeraman tanganku di pundak belakang penanda aku mencapai puncak orgasme. Gerakan benda itu dalam Vaginaku masih tetap berirama, tegar maju mundur dan membuat gesekan dengan sudut- sudut sensitif.

Tiba-tiba irama gerakan itu berubah menjadi cepat, semakin cepat ….. suara eluhan Pak Jarwo terdengar dan otot Vaginaku kembali ikut menegang, yah … aku mau kembali orgasme…

“aaahhhhhhhhhhhh……. aahhhh….” Tiba-tiba benda dalam Vaginaku ditarik keluar.

Semprotan cairan hangat mengenai pahaku dan meleleh di atas meja. Pak Jarwo mencapai puncak kenikmatan. Pak Jarwo memenuhi janjinya, tidak mengeluarkan cairan mani dalam Vaginaku. Aku lemas…..lemas sekali seperti tidak bertulang. Aku didekap lembut dan sebuah ciuman di kening menambah berkurang daya kekuatanku.

Tiga tahun kemudian setelah kejadian di pulau itu, aku telah menikmati hari-hari bahagiaku. Aku sekarang telah menjadi nyonya Jarwo. Di pelukanku ada si mungil Indri, buah hati kami berdua. Setelah perceraian dengan suamiku, satu tahun kemudian aku menikah dengan Pak Jarwo.

About admin

Check Also

Mencoba Manstrubasi Untuk Pertama Kalinya

Mencoba Manstrubasi Untuk Pertama Kalinya

CROT3M Mencoba Manstrubasi Untuk Pertama Kalinya Crot3m – Aku sejak kecil memang sudah tidak suka dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close
BANDAR TOGEL ONLINE TERPERCAYA - PRIZE 1 2 3
close
AGEN POKER ONLINE TERPERCAYA
close
Agen Domino Online
close
close
close
close
close
close